Kamis, 18 Juni 2009

KELAHIRAN KEMBALI DALAM AGAMA BUDDHA


BAB II

PEMBAHASAN

A. Kelahiran Kembali Dalam Enam Alam Kehidupan

Pemikiran Buddhis, kelahiran kembali (tumimbal-lahir) akan terjadi pada akhir kehidupan saat ini. Buddhis mengakui kelahiran kembali sebagai suatu fakta. Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa seseorang yang telah mengalami hidup berkali-kali pada masa lalu dan akan terus hidup pada masa yang akan datang. Kelahiran kembali (tumimbal-lahir) merupakan suatu kenyataan dalam pengertian Buddhisme walaupun kebanyakan orang mungkin tidak menyadari hal tersebut. Keberadaan tentang adanya kehidupan masa sebelumnya dapat dikonfirmasikan kepada orang yang telah melatih pikirannya melalui meditasi.

Sang Buddha pada malam pencapaian Pencerahan-Nya, memperoleh kemampuan melihat beberapa kehidupan Beliau sebelumnya. Beliau juga melihat makhluk hidup mati pada suatu tahapan keberadaan dan makhluk hidup lahir pada tahapan keberadaan lainnya, sesuai dengan karma yang dilakukannya. Sehingga hal ini merupakan pengalaman pribadi Beliau yang diajarkan kepada para murid-Nya, yaitu kebenaran tentang kelahiran kembali.

Sang Buddha bersabda, "Aku mengingat berjuta kali kelahiranKu dari kehidupan yang lampau sebagai berikut: mula-mula 1 kehidupan, kemudian 2 kehidupan, kemudian 3, 4, 5, 10, 20 sampai 50 kehidupan, kemudian seratus, seribu, seratus ribu dan seterusnya" (Majjhima Nikaya, Mahasaccaka Sutta No. 36, I.248)

Buddhisme mengajarkan bahwa kelahiran, kematian dan kelahiran kembali adalah merupakan suatu proses perubahan yang berkelanjutan. Hal tersebut sama dengan proses berkelanjutan dari pertumbuhan, kerusakan dan penggantian sel dalam tubuh seseorang. Menurut ahli kedokteran, setiap tujuh tahun semua sel di dalam tubuh seseorang akan diganti dengan yang baru.

Proses Kematian

Pada saat kematian, dimana hidupnya telah tiada dan tubuhnya sudah tidak bernyawa, maka pikirannya akan terpisah dari tubuh. Kematian merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindari oleh semua makhluk hidup, dan tidak ada tempat persembunyian untuk menghindarinya.

Sang Buddha bersabda : " Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dari kematian. " (Dhammapada, 128).

Pada saat kematian maka keinginan untuk hidup yang merupakan sumber ketidaktahuan (avidy atau avijja) menyebabkannya untuk mencari keberadaan yang baru dan karma yang dilakukannya pada kehidupan sebelumnya itu akan menentukan tempat kelahiran kembali baginya.

Bagian tubuh manusia dalam pengertian Buddhisme dapat dibagi atas empat unsur yaitu: padat (pathav), cair(apo), panas (tejo), gerak (vayo) . Keempat unsur tersebut diikuti oleh warna (vanna) bau (gandha), rasa (rasa), pokok yang utama (oja) tenaga hidup (jivitindria) dan tubuh (kaya). Kematian menurut pengertian Buddhisme adalah berhentinya kehidupan batin dan jasmani (jivitindriya) dari setiap keberadaan individu, yaitu lenyapnya kekuatan (ayu), panas (usma) dan kesadaran (vinnana). Sehingga kematian dapat dipandang sebagai suatu proses penghancuran yang menyeluruh atas suatu makhluk hidup, walaupun suatu masa kehidupan tertentu berakhir tetapi kekuatan yang sampai sekarang ini bergerak tidak dihancurkan. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bola lampu listrik yang walaupun bola lampu itu telah mati karena usang, aus, ataupun pecah, tetapi listriknya tetap mengalir. Demikian juga aliran karma tetap bergerak dimana tidak terganggu oleh kehancuran badan-jasmani, dan hilangnya kesadaran yang sekarang membawa pada kemunculan dari suatu kesadaran yang baru dalam bentuk kelahiran yang lain.

Pengertian Buddhisme Mahayana, seseorang yang meninggal akan tinggal dalam keadaan alam perantara dalam satu, dua, tiga, lima, enam atau tujuh minggu, sampai hari ke-49. Sehingga dalam Buddhisme Mahayana sering dikenal adanya berbagai praktek ritual upacara kematian yang berlangsung setiap minggu sampai hari ke-49.

Makhluk hidup tidak terbatas jumlahnya, dalam berbagai sutra di Mahayana Sang Buddha mengatakan bahwa terdapat 84.000 jenis makhluk hidup , sehingga dengan bijaksana Sang Buddha juga mengajarkan 84.000 Pintu Dharma untuk mengatasi 84.000 jenis penderitaan makhluk hidup.

Secara garis besar dapat dikelompokkan adanya Enam Alam Kehidupan di mana suatu makhluk dapat dilahirkan kembali sesudah kematian, yaitu terdiri dari alam kehidupan dewa, semi-dewa, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka. Ini adalah pengelompokan secara umum dan di antara setiap kelompok tersebut, masih terdapat banyak sub-kelompok. Enam alam kehidupan tersebut terdiri dari tiga alam kehidupan yang boleh dikatakan alam kehidupan yang relatif bahagia, dan tiga lainnya adalah kehidupan yang relatif sengsara. Alam kehidupan dewa, semi-dewa dan manusia dapat dipertimbangkan lebih bahagia dan kurang menderita. Sedangkan alam kehidupan binatang, hantu kelaparan dan neraka dipertimbangkan relatif sengsara. Kehidupan di alam tersebut lebih banyak menderita karena ketakutan, kelaparan, kehausan, kepanasan, kedinginan dan kesakitan.

B. Enam Alam Kehidupan

Enam alam kehidupan yang dipertimbangkan relatif bahagia dan relatif sengsara bagi berlangsungnya kehidupan suatu makhluk adalah:

1. Alam Neraka ( Naraka).

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'ni' yang berarti 'bukan, tidak ada' dan 'aya' yang berarti 'kebajikan, kebahagiaan, perkembangan'. Niraya atau neraka adalah suatu alam kehidupan yang penuh derita dan siksaan, tanpa kesempatan untuk berbuat kebajikan, tanpa kebahagiaan, tanpa perkembangan. Neraka dalam pandangan Agama Buddha bukanlah suatu alam kehidupan yang bersifat kekal. Apabila akibat buruk dari suatu kejahatan telah terlunasi, mereka yang terjatuh ke dalam neraka akan dapat terlahirkan kembali di alam-alam lain yang lebih tinggi tergantung perbuatan-perbuatan lain yang pernah mereka lakukan sepanjang kehidupan-kehidupan lampau. Neraka terbagi menjadi dua bagian, yaitu Neraka Besar (Mahâ-niraya) dan Kecil (Ussadaniraya).

a).Neraka Neraka besar ( Maha-niraya) terdiri atas delapan alam:

  1. Sañjîva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang secara bertubi-tubi dibantai dengan berbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat kamma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

2. Kâïasutta yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau para bhikkhu-sâmaóera yang suka melanggar vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

3. Saõghâta yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang ditindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

4. Dhûmaroruva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

5. Jâlaroruva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orangtua atau barang milik bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau mencoleng benda-benda yang dipakai untuk pemujaan kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

6. Tâpana yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, vihâra, sekolahan dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

7. Patâpana yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa pemberian dâna tidak membuahkan pahala, pemujaan kepada Tiga Mestika tidak berguna, penghormatan kepada dewa tidak berakibat, tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk, ayah-ibu tidak berjasa, tidak ada kehidupan sekarang maupun mendatang, dan tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

8. Avîci yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau Arahanta, melukai Sammâsambuddha, atau memecah-belah pasamuan Saõgha niscaya akan terlahirkan di alam ini. Avîci kerap diang-gap sebagai alam kehidupan yang paling rendah.

b).Neraka kecil ( Ussadaniraya) terdiri atas delapan alam:

1. Angârakâsu (alam neraka yang terpenuhi oleh bara api)

2. Loharasa (alam neraka yang terpenuhi oleh besi mencair)

3. Kukkula (alam neraka yang terpenuhi oleh abu bara)

4. Aggisamohaka (alam neraka yang terpenuhi oleh air panas)

5. Lohakhumbhî (alam neraka yang merupakan panci tembaga)

6. Gûtha (alam neraka yang terpenuhi oleh tahi membusuk)

7. Simpalivana (alam neraka yang merupakan hutan pohon ber-duri)

8. Vettaranî (alam neraka yang merupakan air garam berisi duri rotan)

2. Alam Setan Kelaparan (Preta)

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'pa' yang berarti 'ke depan, menyeluruh', dan 'ita' yang berarti 'telah pergi, telah meninggal'. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian dan sebagainya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti hutan, gunung, tebing, lautan, kuburan, dan sebagainya. Beberapa jenis setan mempunyai kemampuan untuk menyalin rupa dalam wujud seperti dewa, manusia, pertapa, binatang, atau hanya menampakkan diri secara samar-samar seperti bayang-bayang gelap dan lain-lain.

Setan terbagi menjadi empat jenis, yakni:

1. yang hidup bergantung pada makanan pemberian orang lain dengan cara penyaluran jasa dan sebagainya (paradattupajîvika),

2. yang senantiasa kelaparan, kehausan dan kekurangan (khuppîpâsika),

3. yang senantiasa terberangus (nijjhâmataóhika),

4. yang tergolong sebagai iblis atau makhluk yang suram (kâlakañcika).

Jenis yang pertama itu dapat menerima penyaluran jasa karena mereka bertinggal di sekitar atau di dekat manusia, sehingga dapat mengetahui pemberian ini dan beranumodanâ (menyatakan kenuragaan atas kebajikan yang diperbuat oleh makhluk lain). Apabila tak tahu dan tak beranumodanâ, penyaluran jasa ini tidak dapat diterima. Orang yang pada saat-saat menjelang kematian mempunyai ke-31 melekatan yang amat kuat pada kekayaan, harta benda, sanak-keluarga, dan sebagainya niscaya akan erlahirkan di alam setan ini.

Dalam Vinaya dan Lakkhaóa-samyutta, disebutkan adanya 21 macam setan, yaitu:

1. yang hanya bertulang tanpa daging (aööhisaõkha-sika),

2. yang hanya berdaging tanpa tulang (maõsapesika),

3. yang berdaging benjol (maõsapióòa),

4. yang tak berkulit (nicchavirisa),

5. yang berbulu seperti pisau (asiloma),

6. yang berbulu seperti tombak (sat-tiloma),

7. yang berbulu seperti anak panah (usuloma),

8. yang berbulu seperti jarum (sûciloma),

9. yang berbulu seperti jarum jenis kedua (duti-yasûciloma),

10. yang berpelir besar (kumbhaóòa),

11. yang terbenam dalam tahi (gûthakûpanimugga),

12. yang makan tahi (gûthakhâdaka),

13. yang berjenis betina tanpa kulit (nicchavitaka),

14. yang berbau busuk (duggandha),

15. yang bertubuh bara api (ogilinî),

16. yang tak berkepala (asîsa),

17. yang berperawakan seperti bhikkhu,

18. yang berperawakan seperti bhikkhunî,

19. yang berperawakan seperti calon bhikkhunî (sikkhamâna),

20. yang berperawakan seperti sâmanera,

21. yang berperawakan seperti sâmanerî.

Sementara itu, Kitab Lokapaññatti serta Chagatidîpanî menyebutkan adanya dua belas macam setan, yaitu:

1. yang makan ludah, dahak dan mun-tahan (vantâsikâ),

2. yang makan mayat manusia atau binatang (kuópâsa),

3. yang makan tahi (gûthakhâdaka),

4. yang berlidah api (ag-gijâlamukha),

5. yang bermulut sekecil lubang jarum (sûcimukha),

6. yang terdorong keinginan tiada habis (taóhaööita),

7. yang bertubuh hitam pekat (sunijjhâmaka),

8. yang berkuku panjang dan runcing (satthaõga),

9. yang bertubuh sangat besar (pabbataõga),

10. yang bertubuh seperti ular piton (ajagaraõga),

11. yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari (vemânika),

12. yang memiliki kesak-tian (mahiddhika)

3. Alam Raksasa ( Asura)

Terbentuk atas tiga kosakata, yaitu 'a' yang merupakan unsur pembalik, 'sura' yang berarti 'cemerlang, gemilang', dan 'kâya' yang berarti 'tubuh'. Namun, yang dimaksud dengan 'tak cemerlang' di sini bukanlah tidak adanya cahaya yang memancar dari tubuh, melainkan suatu kehidupan yang merana dan serba kekurangan sehingga membuat batin tidak berceria. Istilah 'asura' mungkin juga berasal dari kisah kejatuhan dari Surga Tâvatimsa (terkalahkan oleh Sakka dan pengikutnya) akibat minuman memabukkan (surâ). Sejak itu, mereka bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Karena sebelumnya pernah bertinggal di alam kedewaan, asurakâya kadangkala juga disebut sebagai 'pubbadevâ'. Asurakâya atau iblis terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. iblis berupa dewa(deva-asurâ)

2. iblis berupa setan (peti-asurâ),

3. iblis berupa penghuni neraka (niraya-asurâ).

Deva-asurâ terdiri atas vepacitti, râhu, subali,pahâra, sambaratî, dan vinipâtika. Peti-asurâ terdiri atas kâlakañcika,vemânika, dan âvuddhika. Niraya-asurâ hanya terdiri atas satu jenis, yaitu yang menderita kelaparan dan hidupnya bergelantungan seperti kelelawar.

4. Alam Binatang (Animal)

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'tiro' yang berarti 'melintang, membujur', dan 'acchâna' yang berarti 'pergi, berjalan'. Tiracchâna atau binatang adalah suatu makhluk yang umumnya berjalan dengan melintang atau membujur, bukan berdiri tegak seperti manusia. Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya; dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya (dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (bodhisatta) yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh (semut misalnya) atau lebih besar dari gajah(dinosaurus misalnya).

Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:

1). yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),

2). yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),

3). yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),

4). yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).

5. Alam Manusia

Manussa' terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'mano' yang berarti 'pikiran, batin' dan 'ussa' yang berarti 'tinggi, luhur, meningkat, berkembang'. Manussa atau manusia adalah suatu makhluk yang berkembang serta kukuh batinnya (mano ussanti etesanti=manussâ), yang tahu serta memahami sebab yang layak (kâranâkaranam manatijânâtîti=manusso), yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat (atthânattam manati jânâtîti=manusso), yang tahu serta memahami apa yang merupakan kebajikan dan kejahatan(kusalâkusalam manati jânâtîti=manusso).

Manusia bertinggal di empat tempat, yaitu Uttarakurudîpa, Pubbavidehadîpa, Aparagoyânadîpa, dan Jambudîpa. Umat manusia yang berada di Uttarakurudîpa berusia sampai seribu tahun, yang berada di Pubbavidehadîpa berusia sampai tujuh ratus tahun, yang berada di Aparagoyânadîpa berusia sampai lima ratus tahun, sedangkan yang berada di Jambudîpa berusia tidak menentu, tergantung kadar kebajikan serta kesilaan yang dimiliki. Pernah terjadi bahwa umat manusia tidak begitu mengindahkan kebajikan serta kesilaan sehingga usia rata-rata umat manusia menjadi sependek 10 tahun. Pada zaman Buddha Gotama, usia rata-rata umat manusia ialah 100 tahun. Diprakirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Karena Buddha Go-tama telah mangkat sejak dua puluh lima abad yang lampau, usia rata-rata umat manusia pada saat sekarang ini ialah 75 tahun. Seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia. Lebih pendek dari 100 tahun karena kesempatan bagi kebanyakan orang untuk dapat memahami kebenaran Dhamma terlalu singkat, tetapi juga tidak akan muncul apabila lebih panjang dari 100,000 tahun karena kebanyakan orang akan merasa sulit untuk dapat menembus hakikat ketakkekalan atau kefanaan hidup. Beliau hanya terlahirkan di Jambudîpa, tidak pernah terlahirkan di tiga tempat lainnya apalagi di alam-alam kehidupan selain alam manusia.

6. Alam Dewa

Ada tiga macam deva atau dewa dalam pandangan Agama Buddha, yaitu

a. Upattideva (dewa sebagai makhluk surgawi berdasarkan kelahirannya,).

b.Sammutideva (dewa berdasarkan persepakatan atau perandaian misalnya raja, permaisuri, pangeran dan sebagainya,).

c. Visuddhideva.

Dewa yang suci terbebas dari segala noda batin yang tidak lain ialah Arahanta. Dewa yang dimaksud dalam pembahasan ini hanyalah merujuk pada pengertian yang pertama, Upattideva, yakni makhluk surgawi yang mengenyam kenikmatan inderawi. Makhluk surgawi dalam pandangan Buddhis tidaklah bersifat kekal. Mereka bisa mati karena salah satu dari empat sebab: genapnya usia, habisnya kebajikan, terlena dalam kenikmatan hingga lupa makan, murkah atau irihati.

Dalam pandangan Agama Buddha, alam surga di mana para dewa-dewi bertempat tinggal dalam kurun waktu yang berbatas (tidak kekal, tidak selamanya) terbagi menjadi enam alam, yaitu:

1) Alam Câtumahârâjikâ

Merupakan suatu alam surgawi paling rendah yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni: Dhataraööha, Virudhaka, Virûpakkha, dan Kuvera. Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan 'Catulokapâla'. Dalam Kitab Lokîyapakaraóa, empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai Inda, Yama, Varuóa dan Kuvera. Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat Câtumahârâjikâ terbagi atas tiga, yaitu:

a). yang berada di daratan (bhumattha),

b). yang berada di pohon (rukkha).

c). yang berada di angkasa (âkâsaööha).

Para dewa-dewi di tingkat Câtumahârâjikâ ada yang cenderung berhati jahat, yaitu:

a). Gandhabbo/Gandhabbî: yang berada di pohon-pohon berbau harum, yang belakangan mungkin dikenali oleh orang-orang Jawa sebagai 'gondoruwo'.

b). Kumbhanno/Kumbhannî: penjaga harta pusaka, hutan, dan sebagainya,

c). Nâgo/Nâgî: naga yang memiliki kesaktian, yang mampu menyalin rupa dalam wujud makhluk lain seperti manusia, binatang dan sebagainya,

d). Yakkho/Yakkhinî: raksasa yang gemar menganiaya para penghuni neraka.

2) Alam Tâvatimsa

Alam Tâvatimsa dalah alam surgawi tingkat kedua. Alam ini sebelumnya merupakan tempat tinggal para asurakâya. Nama 'Tâvatimsa' baru dipakai setelah 33 pemuda di bawah pimpinan Mâgha, yang terlahirkan kembali di sini akibat kebajikan yang dilakukan bersama-sama, berhasil menyingkirkan para asurakâya.

Para dewa-dewi di Tâvatimsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu

a) Bhummaööha: Sakka beserta 32 dewa pembesar,

b) Âkâsaööha: yang bertinggal dalam istana di angkasa.

Kebajikan ini antara lain ialah merawat ayah-ibu, menghormat sesepuh dalam keluarga, berbicara lemah lembut, menghindari penghasutan, mengikis kekikiran, bersifat jujur, menahan marah. Usia rata-rata para dewa-dewi yang terlahirkan di alam Tâvatimsa ialah 1,000 tahun dewa atau kira-kira 36 juta tahun manusia.

3) Yâmâbhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat ketiga, menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah Suyâma. Alam ini berada di angkasa. Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai bhum-mattha yang bertinggal di daratan. Istana, harta serta tubuh para dewa-dewi di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tâvatimsa. Rentang hidup mereka ialah 2.000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

4) Tusitabhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat keempat. Para dewa-dewi yang hidup di alam ini senantiasa berceria atas keberadaan yang dimiliki. Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama (Aggasâvaka). Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. Usia rata-rata di alam ini ialah 4.000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia.

5) Nimmânaratîbhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat kelima. Para dewa-dewi di alam ini menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka. Rentang hidup para dewa-dewi di alam ini ialah 8.000 tahun dewa atau kira-kira 2.304 juta tahun manusia.

6) Paranimmittavasavattî

Merupakan alam surgawi tingkat terakhir. Apabila para dewa-dewi di alam Nimmânaratî menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka, para dewa-dewi di alam ini menikmatinya dari apa yang diciptakan atau disediakan oleh yang lain, yang tahu kebutuhan serta keinginan mereka. Usia rata-rata di alam ini ialah 16.000 tahun dewa atau kira-kira 9.216 juta tahun manusia.

Enam Belas Alam Brahma Berbentuk (Rûpabhûmi)

Rûpabhûmi merupakan suatu alam tempat kemunculan 'rûpâvacaravipâkacitta' atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammaööhâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1). tiga alam bagi peraih Jhana pertama ( pathama),

2). tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3). tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4). dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha), dan

5). lima alam Suddhâvâsa.

Empat Alam Brahma Nirbentuk (Arûpabhûmi)

Arûpabhûmi merupakan suatu alam tempat kemunculan empat unsur batiniah yakni kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma nirbentuk (arûpâvacaravipâkacitta). Dengan perkataan lain, arûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran batiniah para brahma nirbentuk. Meskipun disebut sebagai suatu 'alam' yang mengacu pada tempat atau bentuk, di sini sesungguhnya sama sekali tidak ada unsur jasmaniah sehalus apa pun dan dalam wujud apa pun. Sebutan ini terpaksa dipakai untuk dapat mengacu pada kemunculan serta keberadaan unsur-unsur batiniah tersebut. Kelahiran di alam brahma nirbentuk ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memacak terhadap unsur jasmaniah yang menjijikkan sehingga tak menghasratinya (rûpavirâgabhâvanâ).

Arûpabhûmi terbagi menjadi empat alam, yakni:

a. Âkâsânañcâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat pathama-arûpajhâna yang berobjek pada angkasa yang nirbatas,

b. Viññânañcâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat dutiya-arûpajhâna yang berobjek pada kesadaran yang nirbatas,

c. Âkiñcaññâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang
berhasil meraih meditasi tingkat tatiya-arûpajhâna yang berobjek pada kehampaan,

d. Nevasaññânasaññâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat catuttha-arûpajhâna yang berobjek pada bukan ingatan bukan pula tanpa-ingatan.

C. Jalan Pembebasan

Perpindahan dari satu alam ke alam berikutnya begitu seragam seturut dengan karma masing-masing makhluk, saat ini tak satupun dari penghuni dari alam-alam tersebut yang bebas dari kelapukan, perubahan dan kematian. Pembebasan total kehidupan dan perubahan hanya tercapai dengan melenyapnya ketidaktauan dan keinginan, yakni dengan tercapainya nirvana. Terdapat jalan pembebasan yang telah mengatasi ke enam alam tersebut yakni:

1. Tingkat Sharvaka

Terbagi dalam empat tingkatan:

  1. Shrotapana, adalah mereka yang telah memasuki jalan pembebasan atau pemula yang berada dalam arus jalan pembebasan.
  2. Sakridagami adalah mereka yang telah maju dalam menempuh jalan pembebasan, yang akan mencapai nirvana didalam kelahiran kembali berikutnya. Mereka akan terlahir kembali sekali lagi sebelum mencapai nirvana di salah satu alam kehidupan kama( keenam alam kehidupan), rupa atau arupa.
  3. Anagami adalah mereka yang kelak tidak akan terlahir dialam salah satu tiga alam kehidupan: kama, rupa atau arupa. Mereka akan mencapi nirvana dalam kelahiran berikutnya.
  4. Arhat adalah mereka yang membebasakan dirinya secara sempurna dari kelahiran kembali, dan tidak lagi akan lahir kembali.

2. Tingkat Prayeka Buddha

Adalah mereka yang memahami kelahiran lingkaran kausalitas atau hukum sebab-musabab yang saling bergantungan yang terdiri dari dua belas nidana yaitu

  1. Ketidak tauan
  2. Tindakan
  3. Kesadaran
  4. Nama dan rupa
  5. Orang-orang pencearapan
  6. Kontak
  7. Sensasi
  8. Keinginan
  9. Keterikatan
  10. Kelahiran
  11. Kehdupan
  12. Sakit, usia tua, dan kematian.

Buddha Pratyeka adalah mereka yang mencapai penerangan sempurna tampa bimbingan guru, atau dicapai atas usaha sendiri.

3. Tingkat Bodhisattva

Adalah mereka yang tidak bercita-cita mencapai arahat maupun Prayetka Buddha, melainkan menjadi calon buddha yang kebuddhaanya disempurnakan dengan cita-cita dan berkarya dalam memberi kebahagian atau membebaskan setiap makhluk yang masih menderita.

Menurut naskah-naskah Mahayana, Bodhisattva adalah juga calon Buddha.
Seorang Bodhisattva juga berikrar agar kelak dapat menjadi seorang
Buddha yang sempurna dan lengkap (Samyaksambuddha). Hal tersebut
dapat dibaca dalam Sutra Suvarnabhasottama bab III:

Semoga aku menjadi seorang Buddha yang istimewa dengan ratusan ribu meditasi, dengan Dharani (magic formula) yang tak terbayangkan, dengan pencerapan-pencerapan (senses), dengan sepuluh kekuatan (bala), (dan tujuh) bagian pencerahan.

Seorang Bodhisattva berikrar pula untuk membantu memberi manfaat kepada semua makhluk sebagaimana yang tercantum pada Suvarnabhasottama Sutra dengan bab yang sama: Semoga aku menjankan tugas atau karirku selama jutaan kalpa demi kepentingan tiap-tiap makhluk, sampai aku berhasil membebaskan mereka semua dari lautan kesengsaraan Berbagai sutra Mahayana juga menyebutkan bahwa Buddha memberikan peramalan mengenai pencapaian Kebuddhaan sebagai Bodhisattva.

Di dalam Sutra Avatamsaka (Sutra Dasabhumika), juga disebutkan mengenai sepuluh tingkatan kesucian Bodhisattva. Adapun tingkatan- tingkatan tersebut adalah Pramudita, Vimala, Prabhakari, Arcismati, Sudurjaya, Abhimukhi, Durangama, Acala, Sadhumati, dan Dharmamegha. Seorang Bodhisattva menapaki tahapan tersebut satu persatu, hingga merealisasi Kebuddhaan, yang merupakan tingkatan tertinggi di atas Dharmamegha. Karena masih harus melalui tingkatan-tingkatan tersebut, berarti seorang Bodhisattva juga masih belum sempurna. Didalam Sutra
Samdhinirmocana bab VII, masing-masing tingkatan tersebut dihubungkan dengan kekotoran bathin (kilesha) yang masih dimiliki Bodhisattva tersebut. Dimana naiknya seorang Bodhisattva ke tingkat yang lebih tinggi berarti penghapusan kotoran bathin tertentu yang masih dimilikinya. Makin tinggi tingkatannya makin halus kilesha yang tersisa. Dengan dihapuskannya kilesha terakhir pada tingkatan
Dharmamegha tersebut seseorang mencapai tingkat Kebuddhaan.

Disepanjang pelatihan spiritualnya dalam mencapai Kebuddhaan, seorang Bodhisattva melaksanakan tindakan-tindakan bajik yang disebut dengan paramita (lihat bagian khusus buku ini mengenai paramita). Tujuan paramita tersebut adalah untuk membawa kebahagiaan bagi makhluk lainnya.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, bodhisattva membuat empat tekat luhur dan mempratekan enam paramita yakni:

1) menyelamatkan segenap makhluk

2) menyelamatkan segenap keterikatan

3) mengetahui dan mengajar makhluk lainya mencapai kebenaran

4) memimpin makhluk lain mencapai pembebasan

Sedangkan keenam paramita (kebajikan luhur) yang di pratekan bodisattva adalah:

1) dana

2) sila

3) khsaanti

4) viriya

5) dhyana

6) prajna

5. Tingkat Buddha

Tingkat Buddha adalah mereka yang telah mencapai tujuan akhir, mencapai pembebasan mutlak dan penerangan sepurna, yakni hasilnya memiliki tiga tubuh kebuddhaan: nirmanakaya, sambhogakaya, dan dharmakaya.

Untuk mencapai tingkat kebuddhaan tersebut terdapat tiga metode yanmg prisipal jalan pembebasan, yakni:

1) Pembebasan melalui pengendalian diri

2) Pembebasan melalui pengetahuan luhur

3) Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian

Pembebasan pengendalian diri seperti yang tampak dalam shravaka, cita-cita arahat yang Prayeka Buddha. Pembebasan ini dicapai dengan usaha yang tekun dalam melenyapkan kekotoran hati dan mengupul jasa-jasa perbuatan baik atau pengembangan perbuatan baik berdasarkan petunjuk-petunjuk dalam kitab suci.

Pembebasan melalui pengetahuan adalah dengan menubuhkan padangan yang benar dalam diri subyek. Pembebasan melalui cara ini dimungkinkan kerena mereka berpendapat bahwa kebuddhaan tersebut menyakut kesadaran, struktur pengenalan atau padangan yang benar tentang subyek dari pada kebuddhaan itu adalah satu tempat diluar dari subyek.

Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian adalah dengan meyakini buddha yang bersifat universal melalui pujabakti misalnya melalui pemujaan puja Buddha Amitaba. Puja bakti berdasarkan keyakinan yang mendalam akan memupuk dan menubuhkan sepiritual yakni berkembangan pikira-pikiran atau kesadan yan baik, yang akan diikuti dengan perbuatan baik yang membebasankan.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian mengenai alam kehidupan dan jalan pembebasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan semua makhluk selalu diliputi dengan penderitaan. Penyebab dari penderitaan kehidupan semua makhluk adalah ketidaktahuan dan keinginan akan mengalami kelahiran dan kematian atau kelahiran kembali di dalam salah satu dari enam alam kehidupan.

Buddhisme mengajarkan bahwa kelahiran, kematian dan kelahiran kembali adalah merupakan suatu proses perubahan yang berkelanjutan. Pada saat kematian, dimana hidupnya telah tiada dan tubuhnya sudah tidak bernyawa, maka pikirannya akan terpisah dari tubuh. Kematian merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindari oleh semua makhluk hidup, dan tidak ada tempat persembunyian untuk menghindarinya. Pada saat kematian maka keinginan untuk hidup yang merupakan sumber ketidaktahuan (avidya atau avijja) menyebabkannya untuk mencari keberadaan yang baru dan karma yang dilakukannya pada kehidupan sebelumnya itu akan menentukan tempat kelahiran kembali baginya.

Secara garis besar dapat dikelompokkan adanya Enam Alam Kehidupan di mana suatu makhluk dapat dilahirkan kembali sesudah kematian, yaitu terdiri dari alam kehidupan dewa, semi-dewa, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka. Ini adalah pengelompokan secara umum dan di antara setiap kelompok tersebut, masih terdapat banyak subkelompok. Enam alam kehidupan tersebut terdiri dari tiga alam kehidupan yang boleh dikatakan alam kehidupan yang relatif bahagia, dan tiga lainnya adalah kehidupan yang relatif sengsara.

Jalan pembebasan untuk terbebas dari lingkaran kelahiran dan kematian di alam-alam kehidupan tersebut dalam Mahayana dijelaskan bahwa semua makhluk memiliki benih-benih kebuddhaan. Semua makhluk dapat dikatakan sebagai seorang Bodhisatva (calon Buddha). Dimana seseorang dapat mencapai pembebasan mencapai kebuddhaan dengan melaksanakan tindakan-tindakan bajik dengan mempraktekkan enam paramita.

Untuk mencapai tingkat pembebasan mutlak menjadi seorang Buddha terdapat tiga metode yang prisipal jalan pembebasan, yakni: Pembebasan melalui pengendalian diri, Pembebasan melalui pengetahuan luhur, Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian.

B. Saran

Penyusunan makalah ini memberikan saran kepada pembaca untuk dapat memahami dan mengerti ajaran Mahayana mengenai alam kehidupan dan jalan pembebasan yang dicapai untuk mengatasi kelahiran di keenam alam kehidupan. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kelahiran Kembali Dalam Enam Alam Kehidupan

Pemikiran Buddhis, kelahiran kembali (tumimbal-lahir) akan terjadi pada akhir kehidupan saat ini. Buddhis mengakui kelahiran kembali sebagai suatu fakta. Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa seseorang yang telah mengalami hidup berkali-kali pada masa lalu dan akan terus hidup pada masa yang akan datang. Kelahiran kembali (tumimbal-lahir) merupakan suatu kenyataan dalam pengertian Buddhisme walaupun kebanyakan orang mungkin tidak menyadari hal tersebut. Keberadaan tentang adanya kehidupan masa sebelumnya dapat dikonfirmasikan kepada orang yang telah melatih pikirannya melalui meditasi.

Sang Buddha pada malam pencapaian Pencerahan-Nya, memperoleh kemampuan melihat beberapa kehidupan Beliau sebelumnya. Beliau juga melihat makhluk hidup mati pada suatu tahapan keberadaan dan makhluk hidup lahir pada tahapan keberadaan lainnya, sesuai dengan karma yang dilakukannya. Sehingga hal ini merupakan pengalaman pribadi Beliau yang diajarkan kepada para murid-Nya, yaitu kebenaran tentang kelahiran kembali.

Sang Buddha bersabda, "Aku mengingat berjuta kali kelahiranKu dari kehidupan yang lampau sebagai berikut: mula-mula 1 kehidupan, kemudian 2 kehidupan, kemudian 3, 4, 5, 10, 20 sampai 50 kehidupan, kemudian seratus, seribu, seratus ribu dan seterusnya" (Majjhima Nikaya, Mahasaccaka Sutta No. 36, I.248)

Buddhisme mengajarkan bahwa kelahiran, kematian dan kelahiran kembali adalah merupakan suatu proses perubahan yang berkelanjutan. Hal tersebut sama dengan proses berkelanjutan dari pertumbuhan, kerusakan dan penggantian sel dalam tubuh seseorang. Menurut ahli kedokteran, setiap tujuh tahun semua sel di dalam tubuh seseorang akan diganti dengan yang baru.

Proses Kematian

Pada saat kematian, dimana hidupnya telah tiada dan tubuhnya sudah tidak bernyawa, maka pikirannya akan terpisah dari tubuh. Kematian merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindari oleh semua makhluk hidup, dan tidak ada tempat persembunyian untuk menghindarinya.

Sang Buddha bersabda : " Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk menyembunyikan diri dari kematian. " (Dhammapada, 128).

Pada saat kematian maka keinginan untuk hidup yang merupakan sumber ketidaktahuan (avidy atau avijja) menyebabkannya untuk mencari keberadaan yang baru dan karma yang dilakukannya pada kehidupan sebelumnya itu akan menentukan tempat kelahiran kembali baginya.

Bagian tubuh manusia dalam pengertian Buddhisme dapat dibagi atas empat unsur yaitu: padat (pathav), cair(apo), panas (tejo), gerak (vayo) . Keempat unsur tersebut diikuti oleh warna (vanna) bau (gandha), rasa (rasa), pokok yang utama (oja) tenaga hidup (jivitindria) dan tubuh (kaya). Kematian menurut pengertian Buddhisme adalah berhentinya kehidupan batin dan jasmani (jivitindriya) dari setiap keberadaan individu, yaitu lenyapnya kekuatan (ayu), panas (usma) dan kesadaran (vinnana). Sehingga kematian dapat dipandang sebagai suatu proses penghancuran yang menyeluruh atas suatu makhluk hidup, walaupun suatu masa kehidupan tertentu berakhir tetapi kekuatan yang sampai sekarang ini bergerak tidak dihancurkan. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bola lampu listrik yang walaupun bola lampu itu telah mati karena usang, aus, ataupun pecah, tetapi listriknya tetap mengalir. Demikian juga aliran karma tetap bergerak dimana tidak terganggu oleh kehancuran badan-jasmani, dan hilangnya kesadaran yang sekarang membawa pada kemunculan dari suatu kesadaran yang baru dalam bentuk kelahiran yang lain.

Pengertian Buddhisme Mahayana, seseorang yang meninggal akan tinggal dalam keadaan alam perantara dalam satu, dua, tiga, lima, enam atau tujuh minggu, sampai hari ke-49. Sehingga dalam Buddhisme Mahayana sering dikenal adanya berbagai praktek ritual upacara kematian yang berlangsung setiap minggu sampai hari ke-49.

Makhluk hidup tidak terbatas jumlahnya, dalam berbagai sutra di Mahayana Sang Buddha mengatakan bahwa terdapat 84.000 jenis makhluk hidup , sehingga dengan bijaksana Sang Buddha juga mengajarkan 84.000 Pintu Dharma untuk mengatasi 84.000 jenis penderitaan makhluk hidup.

Secara garis besar dapat dikelompokkan adanya Enam Alam Kehidupan di mana suatu makhluk dapat dilahirkan kembali sesudah kematian, yaitu terdiri dari alam kehidupan dewa, semi-dewa, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka. Ini adalah pengelompokan secara umum dan di antara setiap kelompok tersebut, masih terdapat banyak sub-kelompok. Enam alam kehidupan tersebut terdiri dari tiga alam kehidupan yang boleh dikatakan alam kehidupan yang relatif bahagia, dan tiga lainnya adalah kehidupan yang relatif sengsara. Alam kehidupan dewa, semi-dewa dan manusia dapat dipertimbangkan lebih bahagia dan kurang menderita. Sedangkan alam kehidupan binatang, hantu kelaparan dan neraka dipertimbangkan relatif sengsara. Kehidupan di alam tersebut lebih banyak menderita karena ketakutan, kelaparan, kehausan, kepanasan, kedinginan dan kesakitan.

B. Enam Alam Kehidupan

Enam alam kehidupan yang dipertimbangkan relatif bahagia dan relatif sengsara bagi berlangsungnya kehidupan suatu makhluk adalah:

1. Alam Neraka ( Naraka).

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'ni' yang berarti 'bukan, tidak ada' dan 'aya' yang berarti 'kebajikan, kebahagiaan, perkembangan'. Niraya atau neraka adalah suatu alam kehidupan yang penuh derita dan siksaan, tanpa kesempatan untuk berbuat kebajikan, tanpa kebahagiaan, tanpa perkembangan. Neraka dalam pandangan Agama Buddha bukanlah suatu alam kehidupan yang bersifat kekal. Apabila akibat buruk dari suatu kejahatan telah terlunasi, mereka yang terjatuh ke dalam neraka akan dapat terlahirkan kembali di alam-alam lain yang lebih tinggi tergantung perbuatan-perbuatan lain yang pernah mereka lakukan sepanjang kehidupan-kehidupan lampau. Neraka terbagi menjadi dua bagian, yaitu Neraka Besar (Mahâ-niraya) dan Kecil (Ussadaniraya).

a).Neraka Neraka besar ( Maha-niraya) terdiri atas delapan alam:

  1. Sañjîva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang secara bertubi-tubi dibantai dengan berbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat kamma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

2. Kâïasutta yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau para bhikkhu-sâmaóera yang suka melanggar vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

3. Saõghâta yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang ditindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

4. Dhûmaroruva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

5. Jâlaroruva yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orangtua atau barang milik bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau mencoleng benda-benda yang dipakai untuk pemujaan kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

6. Tâpana yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, vihâra, sekolahan dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

7. Patâpana yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa pemberian dâna tidak membuahkan pahala, pemujaan kepada Tiga Mestika tidak berguna, penghormatan kepada dewa tidak berakibat, tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk, ayah-ibu tidak berjasa, tidak ada kehidupan sekarang maupun mendatang, dan tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.

8. Avîci yaitu alam kehidupan bagi makhluk yang direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau Arahanta, melukai Sammâsambuddha, atau memecah-belah pasamuan Saõgha niscaya akan terlahirkan di alam ini. Avîci kerap diang-gap sebagai alam kehidupan yang paling rendah.

b).Neraka kecil ( Ussadaniraya) terdiri atas delapan alam:

1. Angârakâsu (alam neraka yang terpenuhi oleh bara api)

2. Loharasa (alam neraka yang terpenuhi oleh besi mencair)

3. Kukkula (alam neraka yang terpenuhi oleh abu bara)

4. Aggisamohaka (alam neraka yang terpenuhi oleh air panas)

5. Lohakhumbhî (alam neraka yang merupakan panci tembaga)

6. Gûtha (alam neraka yang terpenuhi oleh tahi membusuk)

7. Simpalivana (alam neraka yang merupakan hutan pohon ber-duri)

8. Vettaranî (alam neraka yang merupakan air garam berisi duri rotan)

2. Alam Setan Kelaparan (Preta)

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'pa' yang berarti 'ke depan, menyeluruh', dan 'ita' yang berarti 'telah pergi, telah meninggal'. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian dan sebagainya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti hutan, gunung, tebing, lautan, kuburan, dan sebagainya. Beberapa jenis setan mempunyai kemampuan untuk menyalin rupa dalam wujud seperti dewa, manusia, pertapa, binatang, atau hanya menampakkan diri secara samar-samar seperti bayang-bayang gelap dan lain-lain.

Setan terbagi menjadi empat jenis, yakni:

1. yang hidup bergantung pada makanan pemberian orang lain dengan cara penyaluran jasa dan sebagainya (paradattupajîvika),

2. yang senantiasa kelaparan, kehausan dan kekurangan (khuppîpâsika),

3. yang senantiasa terberangus (nijjhâmataóhika),

4. yang tergolong sebagai iblis atau makhluk yang suram (kâlakañcika).

Jenis yang pertama itu dapat menerima penyaluran jasa karena mereka bertinggal di sekitar atau di dekat manusia, sehingga dapat mengetahui pemberian ini dan beranumodanâ (menyatakan kenuragaan atas kebajikan yang diperbuat oleh makhluk lain). Apabila tak tahu dan tak beranumodanâ, penyaluran jasa ini tidak dapat diterima. Orang yang pada saat-saat menjelang kematian mempunyai ke-31 melekatan yang amat kuat pada kekayaan, harta benda, sanak-keluarga, dan sebagainya niscaya akan erlahirkan di alam setan ini.

Dalam Vinaya dan Lakkhaóa-samyutta, disebutkan adanya 21 macam setan, yaitu:

1. yang hanya bertulang tanpa daging (aööhisaõkha-sika),

2. yang hanya berdaging tanpa tulang (maõsapesika),

3. yang berdaging benjol (maõsapióòa),

4. yang tak berkulit (nicchavirisa),

5. yang berbulu seperti pisau (asiloma),

6. yang berbulu seperti tombak (sat-tiloma),

7. yang berbulu seperti anak panah (usuloma),

8. yang berbulu seperti jarum (sûciloma),

9. yang berbulu seperti jarum jenis kedua (duti-yasûciloma),

10. yang berpelir besar (kumbhaóòa),

11. yang terbenam dalam tahi (gûthakûpanimugga),

12. yang makan tahi (gûthakhâdaka),

13. yang berjenis betina tanpa kulit (nicchavitaka),

14. yang berbau busuk (duggandha),

15. yang bertubuh bara api (ogilinî),

16. yang tak berkepala (asîsa),

17. yang berperawakan seperti bhikkhu,

18. yang berperawakan seperti bhikkhunî,

19. yang berperawakan seperti calon bhikkhunî (sikkhamâna),

20. yang berperawakan seperti sâmanera,

21. yang berperawakan seperti sâmanerî.

Sementara itu, Kitab Lokapaññatti serta Chagatidîpanî menyebutkan adanya dua belas macam setan, yaitu:

1. yang makan ludah, dahak dan mun-tahan (vantâsikâ),

2. yang makan mayat manusia atau binatang (kuópâsa),

3. yang makan tahi (gûthakhâdaka),

4. yang berlidah api (ag-gijâlamukha),

5. yang bermulut sekecil lubang jarum (sûcimukha),

6. yang terdorong keinginan tiada habis (taóhaööita),

7. yang bertubuh hitam pekat (sunijjhâmaka),

8. yang berkuku panjang dan runcing (satthaõga),

9. yang bertubuh sangat besar (pabbataõga),

10. yang bertubuh seperti ular piton (ajagaraõga),

11. yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari (vemânika),

12. yang memiliki kesak-tian (mahiddhika)

3. Alam Raksasa ( Asura)

Terbentuk atas tiga kosakata, yaitu 'a' yang merupakan unsur pembalik, 'sura' yang berarti 'cemerlang, gemilang', dan 'kâya' yang berarti 'tubuh'. Namun, yang dimaksud dengan 'tak cemerlang' di sini bukanlah tidak adanya cahaya yang memancar dari tubuh, melainkan suatu kehidupan yang merana dan serba kekurangan sehingga membuat batin tidak berceria. Istilah 'asura' mungkin juga berasal dari kisah kejatuhan dari Surga Tâvatimsa (terkalahkan oleh Sakka dan pengikutnya) akibat minuman memabukkan (surâ). Sejak itu, mereka bersumpah untuk tidak meminumnya lagi. Karena sebelumnya pernah bertinggal di alam kedewaan, asurakâya kadangkala juga disebut sebagai 'pubbadevâ'. Asurakâya atau iblis terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. iblis berupa dewa(deva-asurâ)

2. iblis berupa setan (peti-asurâ),

3. iblis berupa penghuni neraka (niraya-asurâ).

Deva-asurâ terdiri atas vepacitti, râhu, subali,pahâra, sambaratî, dan vinipâtika. Peti-asurâ terdiri atas kâlakañcika,vemânika, dan âvuddhika. Niraya-asurâ hanya terdiri atas satu jenis, yaitu yang menderita kelaparan dan hidupnya bergelantungan seperti kelelawar.

4. Alam Binatang (Animal)

Terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'tiro' yang berarti 'melintang, membujur', dan 'acchâna' yang berarti 'pergi, berjalan'. Tiracchâna atau binatang adalah suatu makhluk yang umumnya berjalan dengan melintang atau membujur, bukan berdiri tegak seperti manusia. Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya; dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya (dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (bodhisatta) yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh (semut misalnya) atau lebih besar dari gajah(dinosaurus misalnya).

Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:

1). yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),

2). yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),

3). yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),

4). yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).

5. Alam Manusia

Manussa' terbentuk atas dua kosakata, yaitu 'mano' yang berarti 'pikiran, batin' dan 'ussa' yang berarti 'tinggi, luhur, meningkat, berkembang'. Manussa atau manusia adalah suatu makhluk yang berkembang serta kukuh batinnya (mano ussanti etesanti=manussâ), yang tahu serta memahami sebab yang layak (kâranâkaranam manatijânâtîti=manusso), yang tahu serta memahami apa yang bermanfaat dan tak bermanfaat (atthânattam manati jânâtîti=manusso), yang tahu serta memahami apa yang merupakan kebajikan dan kejahatan(kusalâkusalam manati jânâtîti=manusso).

Manusia bertinggal di empat tempat, yaitu Uttarakurudîpa, Pubbavidehadîpa, Aparagoyânadîpa, dan Jambudîpa. Umat manusia yang berada di Uttarakurudîpa berusia sampai seribu tahun, yang berada di Pubbavidehadîpa berusia sampai tujuh ratus tahun, yang berada di Aparagoyânadîpa berusia sampai lima ratus tahun, sedangkan yang berada di Jambudîpa berusia tidak menentu, tergantung kadar kebajikan serta kesilaan yang dimiliki. Pernah terjadi bahwa umat manusia tidak begitu mengindahkan kebajikan serta kesilaan sehingga usia rata-rata umat manusia menjadi sependek 10 tahun. Pada zaman Buddha Gotama, usia rata-rata umat manusia ialah 100 tahun. Diprakirakan bahwa setiap satu abad, usia manusia memendek selama satu tahun. Karena Buddha Go-tama telah mangkat sejak dua puluh lima abad yang lampau, usia rata-rata umat manusia pada saat sekarang ini ialah 75 tahun. Seorang Sammâsambuddha tidak akan muncul apabila usia rata-rata manusia. Lebih pendek dari 100 tahun karena kesempatan bagi kebanyakan orang untuk dapat memahami kebenaran Dhamma terlalu singkat, tetapi juga tidak akan muncul apabila lebih panjang dari 100,000 tahun karena kebanyakan orang akan merasa sulit untuk dapat menembus hakikat ketakkekalan atau kefanaan hidup. Beliau hanya terlahirkan di Jambudîpa, tidak pernah terlahirkan di tiga tempat lainnya apalagi di alam-alam kehidupan selain alam manusia.

6. Alam Dewa

Ada tiga macam deva atau dewa dalam pandangan Agama Buddha, yaitu

a. Upattideva (dewa sebagai makhluk surgawi berdasarkan kelahirannya,).

b.Sammutideva (dewa berdasarkan persepakatan atau perandaian misalnya raja, permaisuri, pangeran dan sebagainya,).

c. Visuddhideva.

Dewa yang suci terbebas dari segala noda batin yang tidak lain ialah Arahanta. Dewa yang dimaksud dalam pembahasan ini hanyalah merujuk pada pengertian yang pertama, Upattideva, yakni makhluk surgawi yang mengenyam kenikmatan inderawi. Makhluk surgawi dalam pandangan Buddhis tidaklah bersifat kekal. Mereka bisa mati karena salah satu dari empat sebab: genapnya usia, habisnya kebajikan, terlena dalam kenikmatan hingga lupa makan, murkah atau irihati.

Dalam pandangan Agama Buddha, alam surga di mana para dewa-dewi bertempat tinggal dalam kurun waktu yang berbatas (tidak kekal, tidak selamanya) terbagi menjadi enam alam, yaitu:

1) Alam Câtumahârâjikâ

Merupakan suatu alam surgawi paling rendah yang berada dalam kekuasaan empat raja dewa, yakni: Dhataraööha, Virudhaka, Virûpakkha, dan Kuvera. Empat raja dewa ini juga dipercayai sebagai pelindung alam manusia, dan karenanya dikenal dengan sebutan 'Catulokapâla'. Dalam Kitab Lokîyapakaraóa, empat dewa pelindung dunia ini dipanggil sebagai Inda, Yama, Varuóa dan Kuvera. Berdasarkan tempat tinggalnya, para dewa-dewi tingkat Câtumahârâjikâ terbagi atas tiga, yaitu:

a). yang berada di daratan (bhumattha),

b). yang berada di pohon (rukkha).

c). yang berada di angkasa (âkâsaööha).

Para dewa-dewi di tingkat Câtumahârâjikâ ada yang cenderung berhati jahat, yaitu:

a). Gandhabbo/Gandhabbî: yang berada di pohon-pohon berbau harum, yang belakangan mungkin dikenali oleh orang-orang Jawa sebagai 'gondoruwo'.

b). Kumbhanno/Kumbhannî: penjaga harta pusaka, hutan, dan sebagainya,

c). Nâgo/Nâgî: naga yang memiliki kesaktian, yang mampu menyalin rupa dalam wujud makhluk lain seperti manusia, binatang dan sebagainya,

d). Yakkho/Yakkhinî: raksasa yang gemar menganiaya para penghuni neraka.

2) Alam Tâvatimsa

Alam Tâvatimsa dalah alam surgawi tingkat kedua. Alam ini sebelumnya merupakan tempat tinggal para asurakâya. Nama 'Tâvatimsa' baru dipakai setelah 33 pemuda di bawah pimpinan Mâgha, yang terlahirkan kembali di sini akibat kebajikan yang dilakukan bersama-sama, berhasil menyingkirkan para asurakâya.

Para dewa-dewi di Tâvatimsa terbagi menjadi dua kelompok, yaitu

a) Bhummaööha: Sakka beserta 32 dewa pembesar,

b) Âkâsaööha: yang bertinggal dalam istana di angkasa.

Kebajikan ini antara lain ialah merawat ayah-ibu, menghormat sesepuh dalam keluarga, berbicara lemah lembut, menghindari penghasutan, mengikis kekikiran, bersifat jujur, menahan marah. Usia rata-rata para dewa-dewi yang terlahirkan di alam Tâvatimsa ialah 1,000 tahun dewa atau kira-kira 36 juta tahun manusia.

3) Yâmâbhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat ketiga, menjadi tempat bagi para dewa-dewi yang terbebas dari segala kesukaran, yang terberkahi dengan kebahagiaan surgawi. Pemegang kekuasaan dalam alam ini ialah Suyâma. Alam ini berada di angkasa. Dalam alam ini dan tingkat yang lebih tinggi, tidak ada dewa-dewi yang tergolong sebagai bhum-mattha yang bertinggal di daratan. Istana, harta serta tubuh para dewa-dewi di alam ini jauh lebih indah dan halus daripada yang bertinggal di Tâvatimsa. Rentang hidup mereka ialah 2.000 tahun dewa atau kira-kira 142 juta tahun manusia.

4) Tusitabhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat keempat. Para dewa-dewi yang hidup di alam ini senantiasa berceria atas keberadaan yang dimiliki. Semua Bodhisatta, sebelum turun ke dunia dan meraih Pencerahan Agung, terlahirkan di alam ini untuk menanti waktu yang tepat bagi kemunculan seorang Buddha. Demikian pula mereka yang akan menjadi orangtua serta Siswa Utama (Aggasâvaka). Sekarang ini, Bodhisatta Metteyya yang akan menjadi Sammâsambuddha setelah ajaran Buddha Gotama punah dari muka bumi ini sedang berada di alam ini. Usia rata-rata di alam ini ialah 4.000 tahun dewa atau kira-kira 567 juta tahun manusia.

5) Nimmânaratîbhûmi

Merupakan alam surgawi tingkat kelima. Para dewa-dewi di alam ini menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka. Rentang hidup para dewa-dewi di alam ini ialah 8.000 tahun dewa atau kira-kira 2.304 juta tahun manusia.

6) Paranimmittavasavattî

Merupakan alam surgawi tingkat terakhir. Apabila para dewa-dewi di alam Nimmânaratî menikmati kepuasan inderawi sebagaimana yang diciptakan sendiri sesuka hati mereka, para dewa-dewi di alam ini menikmatinya dari apa yang diciptakan atau disediakan oleh yang lain, yang tahu kebutuhan serta keinginan mereka. Usia rata-rata di alam ini ialah 16.000 tahun dewa atau kira-kira 9.216 juta tahun manusia.

Enam Belas Alam Brahma Berbentuk (Rûpabhûmi)

Rûpabhûmi merupakan suatu alam tempat kemunculan 'rûpâvacaravipâkacitta' atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammaööhâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1). tiga alam bagi peraih Jhana pertama ( pathama),

2). tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3). tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4). dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha), dan

5). lima alam Suddhâvâsa.

Empat Alam Brahma Nirbentuk (Arûpabhûmi)

Arûpabhûmi merupakan suatu alam tempat kemunculan empat unsur batiniah yakni kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma nirbentuk (arûpâvacaravipâkacitta). Dengan perkataan lain, arûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran batiniah para brahma nirbentuk. Meskipun disebut sebagai suatu 'alam' yang mengacu pada tempat atau bentuk, di sini sesungguhnya sama sekali tidak ada unsur jasmaniah sehalus apa pun dan dalam wujud apa pun. Sebutan ini terpaksa dipakai untuk dapat mengacu pada kemunculan serta keberadaan unsur-unsur batiniah tersebut. Kelahiran di alam brahma nirbentuk ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memacak terhadap unsur jasmaniah yang menjijikkan sehingga tak menghasratinya (rûpavirâgabhâvanâ).

Arûpabhûmi terbagi menjadi empat alam, yakni:

a. Âkâsânañcâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat pathama-arûpajhâna yang berobjek pada angkasa yang nirbatas,

b. Viññânañcâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat dutiya-arûpajhâna yang berobjek pada kesadaran yang nirbatas,

c. Âkiñcaññâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang
berhasil meraih meditasi tingkat tatiya-arûpajhâna yang berobjek pada kehampaan,

d. Nevasaññânasaññâyatanabhûmi: alam kehidupan bagi brahma nirbentuk yang berhasil meraih meditasi tingkat catuttha-arûpajhâna yang berobjek pada bukan ingatan bukan pula tanpa-ingatan.

C. Jalan Pembebasan

Perpindahan dari satu alam ke alam berikutnya begitu seragam seturut dengan karma masing-masing makhluk, saat ini tak satupun dari penghuni dari alam-alam tersebut yang bebas dari kelapukan, perubahan dan kematian. Pembebasan total kehidupan dan perubahan hanya tercapai dengan melenyapnya ketidaktauan dan keinginan, yakni dengan tercapainya nirvana. Terdapat jalan pembebasan yang telah mengatasi ke enam alam tersebut yakni:

1. Tingkat Sharvaka

Terbagi dalam empat tingkatan:

  1. Shrotapana, adalah mereka yang telah memasuki jalan pembebasan atau pemula yang berada dalam arus jalan pembebasan.
  2. Sakridagami adalah mereka yang telah maju dalam menempuh jalan pembebasan, yang akan mencapai nirvana didalam kelahiran kembali berikutnya. Mereka akan terlahir kembali sekali lagi sebelum mencapai nirvana di salah satu alam kehidupan kama( keenam alam kehidupan), rupa atau arupa.
  3. Anagami adalah mereka yang kelak tidak akan terlahir dialam salah satu tiga alam kehidupan: kama, rupa atau arupa. Mereka akan mencapi nirvana dalam kelahiran berikutnya.
  4. Arhat adalah mereka yang membebasakan dirinya secara sempurna dari kelahiran kembali, dan tidak lagi akan lahir kembali.

2. Tingkat Prayeka Buddha

Adalah mereka yang memahami kelahiran lingkaran kausalitas atau hukum sebab-musabab yang saling bergantungan yang terdiri dari dua belas nidana yaitu

  1. Ketidak tauan
  2. Tindakan
  3. Kesadaran
  4. Nama dan rupa
  5. Orang-orang pencearapan
  6. Kontak
  7. Sensasi
  8. Keinginan
  9. Keterikatan
  10. Kelahiran
  11. Kehdupan
  12. Sakit, usia tua, dan kematian.

Buddha Pratyeka adalah mereka yang mencapai penerangan sempurna tampa bimbingan guru, atau dicapai atas usaha sendiri.

3. Tingkat Bodhisattva

Adalah mereka yang tidak bercita-cita mencapai arahat maupun Prayetka Buddha, melainkan menjadi calon buddha yang kebuddhaanya disempurnakan dengan cita-cita dan berkarya dalam memberi kebahagian atau membebaskan setiap makhluk yang masih menderita.

Menurut naskah-naskah Mahayana, Bodhisattva adalah juga calon Buddha.
Seorang Bodhisattva juga berikrar agar kelak dapat menjadi seorang
Buddha yang sempurna dan lengkap (Samyaksambuddha). Hal tersebut
dapat dibaca dalam Sutra Suvarnabhasottama bab III:

Semoga aku menjadi seorang Buddha yang istimewa dengan ratusan ribu meditasi, dengan Dharani (magic formula) yang tak terbayangkan, dengan pencerapan-pencerapan (senses), dengan sepuluh kekuatan (bala), (dan tujuh) bagian pencerahan.

Seorang Bodhisattva berikrar pula untuk membantu memberi manfaat kepada semua makhluk sebagaimana yang tercantum pada Suvarnabhasottama Sutra dengan bab yang sama: Semoga aku menjankan tugas atau karirku selama jutaan kalpa demi kepentingan tiap-tiap makhluk, sampai aku berhasil membebaskan mereka semua dari lautan kesengsaraan Berbagai sutra Mahayana juga menyebutkan bahwa Buddha memberikan peramalan mengenai pencapaian Kebuddhaan sebagai Bodhisattva.

Di dalam Sutra Avatamsaka (Sutra Dasabhumika), juga disebutkan mengenai sepuluh tingkatan kesucian Bodhisattva. Adapun tingkatan- tingkatan tersebut adalah Pramudita, Vimala, Prabhakari, Arcismati, Sudurjaya, Abhimukhi, Durangama, Acala, Sadhumati, dan Dharmamegha. Seorang Bodhisattva menapaki tahapan tersebut satu persatu, hingga merealisasi Kebuddhaan, yang merupakan tingkatan tertinggi di atas Dharmamegha. Karena masih harus melalui tingkatan-tingkatan tersebut, berarti seorang Bodhisattva juga masih belum sempurna. Didalam Sutra
Samdhinirmocana bab VII, masing-masing tingkatan tersebut dihubungkan dengan kekotoran bathin (kilesha) yang masih dimiliki Bodhisattva tersebut. Dimana naiknya seorang Bodhisattva ke tingkat yang lebih tinggi berarti penghapusan kotoran bathin tertentu yang masih dimilikinya. Makin tinggi tingkatannya makin halus kilesha yang tersisa. Dengan dihapuskannya kilesha terakhir pada tingkatan
Dharmamegha tersebut seseorang mencapai tingkat Kebuddhaan.

Disepanjang pelatihan spiritualnya dalam mencapai Kebuddhaan, seorang Bodhisattva melaksanakan tindakan-tindakan bajik yang disebut dengan paramita (lihat bagian khusus buku ini mengenai paramita). Tujuan paramita tersebut adalah untuk membawa kebahagiaan bagi makhluk lainnya.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, bodhisattva membuat empat tekat luhur dan mempratekan enam paramita yakni:

1) menyelamatkan segenap makhluk

2) menyelamatkan segenap keterikatan

3) mengetahui dan mengajar makhluk lainya mencapai kebenaran

4) memimpin makhluk lain mencapai pembebasan

Sedangkan keenam paramita (kebajikan luhur) yang di pratekan bodisattva adalah:

1) dana

2) sila

3) khsaanti

4) viriya

5) dhyana

6) prajna

5. Tingkat Buddha

Tingkat Buddha adalah mereka yang telah mencapai tujuan akhir, mencapai pembebasan mutlak dan penerangan sepurna, yakni hasilnya memiliki tiga tubuh kebuddhaan: nirmanakaya, sambhogakaya, dan dharmakaya.

Untuk mencapai tingkat kebuddhaan tersebut terdapat tiga metode yanmg prisipal jalan pembebasan, yakni:

1) Pembebasan melalui pengendalian diri

2) Pembebasan melalui pengetahuan luhur

3) Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian

Pembebasan pengendalian diri seperti yang tampak dalam shravaka, cita-cita arahat yang Prayeka Buddha. Pembebasan ini dicapai dengan usaha yang tekun dalam melenyapkan kekotoran hati dan mengupul jasa-jasa perbuatan baik atau pengembangan perbuatan baik berdasarkan petunjuk-petunjuk dalam kitab suci.

Pembebasan melalui pengetahuan adalah dengan menubuhkan padangan yang benar dalam diri subyek. Pembebasan melalui cara ini dimungkinkan kerena mereka berpendapat bahwa kebuddhaan tersebut menyakut kesadaran, struktur pengenalan atau padangan yang benar tentang subyek dari pada kebuddhaan itu adalah satu tempat diluar dari subyek.

Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian adalah dengan meyakini buddha yang bersifat universal melalui pujabakti misalnya melalui pemujaan puja Buddha Amitaba. Puja bakti berdasarkan keyakinan yang mendalam akan memupuk dan menubuhkan sepiritual yakni berkembangan pikira-pikiran atau kesadan yan baik, yang akan diikuti dengan perbuatan baik yang membebasankan.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan uraian mengenai alam kehidupan dan jalan pembebasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kehidupan semua makhluk selalu diliputi dengan penderitaan. Penyebab dari penderitaan kehidupan semua makhluk adalah ketidaktahuan dan keinginan akan mengalami kelahiran dan kematian atau kelahiran kembali di dalam salah satu dari enam alam kehidupan.

Buddhisme mengajarkan bahwa kelahiran, kematian dan kelahiran kembali adalah merupakan suatu proses perubahan yang berkelanjutan. Pada saat kematian, dimana hidupnya telah tiada dan tubuhnya sudah tidak bernyawa, maka pikirannya akan terpisah dari tubuh. Kematian merupakan suatu kejadian yang tidak dapat dihindari oleh semua makhluk hidup, dan tidak ada tempat persembunyian untuk menghindarinya. Pada saat kematian maka keinginan untuk hidup yang merupakan sumber ketidaktahuan (avidya atau avijja) menyebabkannya untuk mencari keberadaan yang baru dan karma yang dilakukannya pada kehidupan sebelumnya itu akan menentukan tempat kelahiran kembali baginya.

Secara garis besar dapat dikelompokkan adanya Enam Alam Kehidupan di mana suatu makhluk dapat dilahirkan kembali sesudah kematian, yaitu terdiri dari alam kehidupan dewa, semi-dewa, manusia, binatang, hantu kelaparan dan neraka. Ini adalah pengelompokan secara umum dan di antara setiap kelompok tersebut, masih terdapat banyak subkelompok. Enam alam kehidupan tersebut terdiri dari tiga alam kehidupan yang boleh dikatakan alam kehidupan yang relatif bahagia, dan tiga lainnya adalah kehidupan yang relatif sengsara.

Jalan pembebasan untuk terbebas dari lingkaran kelahiran dan kematian di alam-alam kehidupan tersebut dalam Mahayana dijelaskan bahwa semua makhluk memiliki benih-benih kebuddhaan. Semua makhluk dapat dikatakan sebagai seorang Bodhisatva (calon Buddha). Dimana seseorang dapat mencapai pembebasan mencapai kebuddhaan dengan melaksanakan tindakan-tindakan bajik dengan mempraktekkan enam paramita.

Untuk mencapai tingkat pembebasan mutlak menjadi seorang Buddha terdapat tiga metode yang prisipal jalan pembebasan, yakni: Pembebasan melalui pengendalian diri, Pembebasan melalui pengetahuan luhur, Pembebasan melalui keyakinan atau kebaktian.

B. Saran

Penyusunan makalah ini memberikan saran kepada pembaca untuk dapat memahami dan mengerti ajaran Mahayana mengenai alam kehidupan dan jalan pembebasan yang dicapai untuk mengatasi kelahiran di keenam alam kehidupan. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun, demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar